Badan Amil Zakat (BAZ) Kota Samarinda bekerjasama dengan BAZ Kecamatan
Sungai Kunjang mengadakan kegiatan Sosialisasi Undang-Undang tentang
Pengelolaan Zakat, bertempat di Masjid Adz-Dzikro Jl. Cendana Samarinda
pada hari Rabu malam Kamis tanggal 6
Ramadhan 1433 Hijriyah = 25 Juli 2012 Miladiyah dari pukul 21.00 sd
pukul 23.00 WITA. Ketua BAZ Kecamatan Sungai Kunjang H. Muhajir, S.Ag.
dalam kata pengantarnya menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah yang
kedua dalam tahun ini setelah kegiatan yang sama seminggu sebelumnya,
tepatnya tanggal 29 Sya'ban = 18 Juli yang lalu di Masjid Ar-Rasyidin
Loa Bakung. Rencana selanjutnya tanggal 1 Agustus nanti di Lok Bahu dan
tanggal 8 Agustus di Loa Buah. Dalam kesempatan tersebut Muhajir juga
menyampaikan ucapan terimakasih kepada Pengurus Masjid Adz-Dzikro yang
telah menyediakan tempat beserta kelengkapannya. Acara diikuti oleh tak
kurang 30 orang terdiri dari Pengurus Masjid/Mushalla dan Pengurus Unit
Pengumpul Zakat (UPZ) dari masing-masing Masjid/Mushalla.
Drs. H.
Asmuni Alie, M.M. Ketua BAZ Kota Samarinda sebagai Nara Sumber
menjelaskan tentang telah terbitnya Undang-Undang yang baru yaitu
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat sebagai
penyempurnaan dari Undang-Undang yang telah ada sebelumnya. Sementara
belum terbit Petunjuk Pelaksanaan Undang-Undang yang baru, maka dalam
pelaksanaannya masih tetap mengacu kepada petunjuk pelaksanaan yang
telah ada. Berbagai program yang telah dilaksanakan oleh BAZ Kota
Samarinda juga disampaikan untuk dapat diketahui oleh segenap peserta
sosialisasi. Hal yang penting dan mendapat perhatian peserta adalah
adanya info Keputusan Rakorda Wilayah IV MUI Se-Kalimantan Tahun 2010
dari Komisi C tentang Penjualan Zakat Fitri Kepada Muzzaki oleh Petugas
Penerima Zakat yang menetapkan bahwa 1. Petugas penerima zakat seperti
di Amil Zakat atau UPZ, haram menjual beras zakat yang diterimanya
kepada calon muzakki yang hendak membayar zakat fitri, 2.Sakat berupa
beras yang terkumpul di amil zakat bukanlah milik petugas secara penuh,
karena itu tidak sah dijual, salah satu syarat jual beli bahwa barang
yang dijual harus dimiliki penjual secara penuh (Milkut tam), 3. Muzakki
yang membayar zakat fitri dari beras yang dibeli dari Amil tersebut
juga tidak sah. Dengan adanya penjelasan ini insyaAllah bagi Petugas
Amil atau UPZ yang dapat mencerna dan memahami makna keputusan tersebut
untuk selanjutnya tentu akan lebih berhati-hati dan tidak akan berani
menanggung risiko berat apabila dengan sengaja melanggarnya.
BELAJAR DARI SEJARAH
Ide tulisan ini muncul ketika penulis menyaksikan berita tentang Gayus setelah vonis, bersamaan dengan itu mendengarkan pula TV Tepian Chanel yang menyiarkan bacaan Al-Qur'an surat Yusuf dan terjemahannya
BUANG PROVOKASI PERANG
Kliping opini Kunarso 2005
BUANG PROVOKASI PERANG
Kliping opini Kunarso tahun 2005
Rabu, 25 Juli 2012
Seseorang yang sedang marah sering menunjukkan
perilaku umum yaitu bersuara keras,
bahkan memaki-maki diri sendiri, membentak-bentak objek kemarahan, atau
berteriak-teriak sambil merusak barang-barang di sekitarnya. Bahkan, kalaupun
pada saat marah dia diam seribu bahasa,
hati sebenarnya juga berteriak-teriak meskipun tak terdengar oleh orang lain.
Teriakan suara hati ini juga bisa dikategorikan sebagai bersuara
keras.
Ada pertanyaan,
mengapa saat seseorang marah ia
bersuara keras, padahal orang-orang yang menjadi sasaran kemarahan berada tak
jauh? Bukankah sebenarnya cukup bersuara dengan volume sedang atau pelan pada
saat “menyampaikan” kemarahan, karena toh orang-orang yang dimarahi tidaklah tuli?
Kata
orang bijak “Ketika dua orang sedang
berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat
jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai
jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka
menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun
menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih
keras lagi. Sebaliknya, ketika dua orang saling jatuh cinta maka
mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang
keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apa pun,
keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak sehingga sepatah
katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat
mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”
Artinya, kemarahan bisa membentangkan jarak menjadi
jauh antara hati seseorang dengan hati orang-orang yang dimarahi. Hal ini
ditandai dengan suara keras yang diperdengarkan. Logikanya cukup sederhana,
suara yang keras diperlukan untuk menyampaikan pesan kepada orang yang berada
relatif jauh. Kalau ia berada dekat tentu cukup dengan bersuara pelan saja.
Nah, dalam kondisi marah, suara keras membuat hati seseorang terasa jauh dari
hati orang yang dimarahi meskipun secara fisik keduanya berdekatan.
Semakin keras seseorang yang
marah membentak, maka jarak yang
membentang diantara keduanya semakin lebar. Efek emosional dari bentangan jarak
itu adalah rasa geram yang semakin membesar kepada objek kemarahan seiring
detik demi detik yang dilalui ketika seseorang sedang marah.
Insya Allah kondisi yang terjadi
adalah sebaliknya jika seseorang bisa
mengendalikan suara yaitu lebih memilih
bersuara lembut saat kemarahan datang. Suara lembut ini dapat mendekatkan
kembali dua hati manusia yang bergerak
menjauh saat dilanda banjir amarah.
Pada akhirnya, kemarahan tersebut ditutup dengan pemaafan, keridhaan,
dan rasa cinta. Dalam suasana tenang pun suara lembut ini menjadi lambang
cinta. Lihat saja seorang suami yang sedang menyatakan cinta kepada istrinya.
Suaranya begitu lembut, pelan, dan bahkan sampai tak terdengar. Walaupun tak
terdengar sang istri tetap dapat merasakan dan memahami curahan cinta itu,
cukup dengan menatap mata sang suami. Dan begitu pula sebaliknya. Hal ini disebabkan hati mereka menjadi
sangat dekat satu sama lain.
Dikutip dan disarikan dari :
http://heartofalfikr.wordpress.com/2007/11/24/bentang-di-antara-dua-hati/
TUNTUNAN
AL-QUR’AN :
"Dan
sebutlah (Nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut
(pada siksaan-Nya), serta tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan
petang. Dan janganlah kamu termasuk
orang-orang yang lalai. " (QS.
Al-A'raaf: 205)
“Sederhanalah
kamu dalam berjalan dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara
ialah suara keledai”. (QS Luqman : 19).
(disampaikan oleh Kunarso di depan Jamaah Qiyam
Ramadhan 1433 Hijriyah pada tgl. 25 Juli 2012 di Sekretariat Panitia Pembangunan Masjid Nuruz Zaman Kompleks Muhammadiyah Loa Bakung, Samarinda)
Simak lebih lanjut di
http://azkuna.blogspot.com dan
facebook http://www.facebook.com/azkuna
Senin, 04 April 2011

PENGUKUHAN PENGURUS BAZ
Acara Pengukuhan Pengurus Badan Amil Zakat (BAZ) Kecamatan Sungai Kunjang berlangsung pada hari Rabu tanggal 25 Rabi’ul akhir 1432 hijriyah bertepatan dengan tanggal 30 Maret 2011 Miladiyah dimulai pukul 09.30 WITA. Mushalla yang berada di belakang Kantor Kecamatan Sungai Kunjang Jl. Jakarta Loa Bakung Samarinda dipilih menjadi tempat berlangsungnya acara. Tamu undangan dari para Pejabat Tingkat Kecamatan dan undangan lainnya tampak hadir pada acara tersebut.
Camat Sungai Kunjang Nurrahmani, SIP, M.M. pada acara pengukuhan tersebut menyampaikan harapannya kepada segenap pengurus agar dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Perhatian yang besar telah ditunjukkan dengan disiapkannya ruangan untuk sekretariat, bahkan lebih dari itu nantinya akan banyak kegiatan yang akan didukung oleh pemerintah kecamatan.
Pengurus yang dikukuhkan adalah yang tertuang dalam Surat Keputusan Camat Sungai Kunjang Nomor 5 Tahun 2011 tertanggal 7 Februari 2011 tentang Susunan Personil Organisasi BAZ Kecamatan Sungai Kunjang yang meliputi Dewan Pertimbangan, Komisi Pengawas dan Badan Pelaksana yang diperkuat dengan empat seksi. Tercantum dalam Dewan Pertimbangan sebagai ketua Drs. H. Romansyah, M.S.i, Wakil Ketua H. Burhanuddin, Sekretaris Drs. Fathurrahman, M.T., Wakil Sekretaris Siti Murniati, M.M. ditambah dengan 7 orang anggota. Sementara itu dalam Komisi Pengawas sebagai Ketua adalah Camat Sungai Kunjang, Wakil Ketua Sekretaris Camat, Sekretaris Kepala KUA, Wakil Sekretaris Kepala UPTD Pendidikan dan 7 orang anggota adalah Lurah se kecamatan Sungai Kunjang. Sedangkan jajaran Badan Pelaksana tercantum nama Ketua H. Muhajir S.Ag,, Wakil Ketua Rudi Ananta, Sekretaris Ir. Kunarso, M.P., Wakil Sekretaris Abdullah, S.Ag., dan Bendahara H.M. Yusuf. Sementara itu empat Seksi pendukung terdiri dari Seksi Pengumpulan Zakat dengan Koordinator Ikhsan Hasani, S.P. dengan 7 orang anggota, Seksi Pembinaan dan Pengembangan terdiri dari H. Hasyim M. Hum, M.Pd dan Aminuddin, S.Pd., Seksi Pendayagunaan dari UPTD Diknas Kecamatan dan Imam P3N se Kecamatan Sungai Kunjang dan Seksi Penyuluhan Pendistribusian dengan Koordinator Muji Raharjo, S.Ag. M.Pd. dengan dua anggota.
Sementara itu, pihak BAZ Kota Samarinda disampaikan oleh Drs. H. Romansyah, M.Si. didampingi oleh ketuanya Drs. H. Asmuni Ali menyambut baik adanya acara pengukuhan pengurus BAZ Sungai Kunjang yang menurut catatannya merupakan pengukuhan pengurus BAZ Kecamatan yang pertama. Sebagai ungkapan kesyukurannya, dalam sambutan tersebut juga menyatakan kesiapan BAZ Kota Samarinda untuk mendukung kegiatan Sekretariat BAZ Sungai Kunjang dengan memberikan bantuan berupa seperangkat unit komputer. Diharapkan nantinya komputer dapat dimanfaatkan untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan dalam administrasi kegiatan penghimpunan dan pendistribusian zakat.
Acara dilanjutkan dengan Rapat Penyusunan Rencana Kerja tahun 2011, pembahasan dalam rapat meliputi rencana Bidang Organisasi dan Administrasi, Bidang Pembinaan dan Penyuluhan serta Bidang Operasional termasuk pengumpulan dan pendistribusian.
Selasa, 25 Januari 2011
BELAJAR DARI SEJARAH
Menggali Hikmah Kisah Nabi Yusuf :
MENYIKAPI MISTERI KASUS GAYUS
Oleh : Kunarso *)
KERANGKENG Penjara, bukan hanya orang jahat yang bisa dimasukkan ke dalamnya, tidak sedikit orang baik dan yang tidak bersalahpun ternyata bisa dimasukkan juga, yaitu ketika barang bukti dan fakta bohong hasil rekayasa menjadi acuan hakim yang mengadilinya.
Kisah Nabi Yusuf yang tertera dengan jelas di dalam Al-Qur’an dapat memberikan banyak pelajaran bagi ummat manusia dalam menyikapi berbagai kasus misteri yang sulit diungkap untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki, tidak terkecuali misteri kasus Gayus yang belakangan sedang mengguncang situasi negeri ini.
FAKTA BOHONG HASIL REKAYASA
Banyak bukti dan fakta hasil rekayasa dibuat oleh manusia yang berbohong untuk meyakinkan orang lain agar percaya dengan apa yang dikatakannya, padahal yang terjadi sebenarnya adalah sangat jauh berbeda. Saudara-saudara Yusuf contohnya, saat sore hari pulang dari bermain mereka menangis dan meminta ampun kepada ayahnya Ya’qub karena saat berangkat dari rumah Yusuf ikut bersama, tetapi saat pulangnya Yusuf tak ada lagi bersama. Merekapun berbohong dengan mengatakan bahwa saat bermain Yusuf dimakan oleh serigala, bukti berupa baju yang berlumur darahpun ditunjukkan untuk meyakinkan apa yang diceritakan kepada ayahnya. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah memang sejak minta ijin untuk mengajak Yusuf bermain sudah ada rencana untuk menyingkirkannya. Semula Yusuf akan dibunuh, atas usul salah satu dari saudaranya maka Yusuf dimasukkan ke dalam sumur.
Untuk mengelabui ayahnya, baju Yusufpun di bawa pulang dengan terlebih dahulu dilumuri darah hewan yang disembelihnya. Baju berlumur darah hewan itulah yang ditunjukkan kepada ayahnya.
Yusuf kemudian selamat dapat keluar dari sumur tersebut setelah ditemukan oleh musafir yang lewat dan kemudian dijual dengan harga yang murah. Seorang Mesir kemudian membelinya, karena tak punya anak maka Yusuf dijadikan sebagai anak angkat. Ujian berat bagi Yusuf tidak terhenti setelah selamat dari sumur, ketika usia menginjak dewasa masih ada lagi ujian berat menimpanya.
BERDO’A AGAR DIPENJARA
Ujian berat bagi Yusuf ketika menginjak dewasa, istri raja bernama Zulaika tertarik padanya karena ketampanannya. Ketika Yusuf berada didalam suatu ruangan menolak ajakan Zulaika dan berusaha untuk lari keluar, maka Zulaika pun menarik bajunya sampai robek. Bersamaan dengan saat itu raja berada di depan pintu hendak masuk ke ruangan sehingga marah berat melihatnya. Zulaika berbohong dengan menangis dan melaporkan kepada suaminya bahwa Yusuf telah mencoba mengganggunya, untuk lebih meyakinkan maka Zulaika membuat argumentasi yaitu menunjukkan bukti berupa baju Yusuf yang robek. Menghadapi Yusuf yang tetap menjaga diri tidak mau menuruti ajakannya, maka Zulaika bersama para wanita temannya mengancam akan memasukkan Yusuf ke penjara. Yusufpun berdo’a: “ Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipudaya mereka, tentu aku akan cenderung untuk memenuhi keinginan mereka dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh” (QS Yusuf 3 : 33). Berbagai tipudaya, kebohongan dan rekayasa dibuat oleh Zulaika, maka Yusufpun kemudian dimasukkan ke penjara sesuai dengan do’anya agar dapat menghindari dosa.
Allah SWT Tuhan Yang Maha Luas ilmuNya memberikan hikmah pengetahuan kepada Yusuf sehingga di penjara Yusuf dikenal oleh banyak temannya. Yusuf dapat menakwilkan mimpi dan semakin dikenal setelah menakwilkan mimpi temannya yang ternyata kemudian terbukti benar-benar terjadi atas ijin Allah Yang Maha Kuasa,
MINTA JADI BENDAHARA
Pada suatu hari Raja bermimpi, ada tujuh ekor lembu gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor lembu kurus-kurus, mimpi itupun membuat Raja gelisah. Berkat informasi yang diperoleh, maka Yusufpun dipanggil ke kerajaan untuk menakwilkan mimpi Raja. Yusuf mengatakan, bahwa negeri ini akan mengalami tujuh tahun berturut-turut dengan keadaan makmur dengan pertanian yang subur dan produksi yang melimpah kemudian akan disusul dengan tujuh tahun berturut-turut dengan keadaan yang sulit karena terjadi kekeringan yang sangat sehingga tanaman pertanian rusak dan tidak berproduksi, jadi sejak sekarang perlu upaya untuk mengatasinya.
Ketika kemudian raja bertanya kepada Yusuf tentang bagaimana cara mengatasinya, maka Yusuf mengajukan permintaan: “Jadikan saya sebagai bendahara negara”. Raja yang saat itu fikirannya dalam kondisi kalut, tak lagi membuang banyak waktu, spontan permintaan itupun disangupinya, maka Yusuf pun menjadi bendahara negara. Rencanapun disusun oleh Yusuf dengan perhitungan yang matang, koordinasi dengan berbagai pihakpun dilakukan dengan penuh transparan, maka semua pihak ikut mendukung untuk mensukseskan programnya dan tak seorangpun ada yang menghalangi langkahnya.
Betul apa yang terjadi kemudian, produksi pertanian negerinya melimpah ruah selama tujuh tahun berturut-turut. Surplus pangan disimpan dengan perlakuan yang sempurnya sehingga dapat tahan dalam jangka waktu yang lama. Kemudian ketika kekeringan terjadi tujuh tahun berikutnya berturut-turut, maka simpanan bahan pangan secara bertahap dikeluarkan sesuai dengan keperluan. Masa tujuh tahun kekeringan itupun akhirnya terlewati dan penduduk negeri bersyukur bahwa masa sulit dapat diatasi. Pada saatnya kemudian, Yusuf pun memimpin negeri dalam suasana aman, tentram dan damai. Yusuf juga menjadi Nabi.
MISTERI KASUS GAYUS
Begitu usai persidangan yang menjatuhkan vonis tujuh tahun penjara dan denda tigaratus juta rupiah, Gayus Halomoan Tambunan bikin kejutan dengan mengungkap banyak hal menurut versinya tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Apa yang disampaikan berbeda dengan bukti dan fakta yang sementara ini telah disiarkan oleh berbagai media, dia menyatakan bahwa ada banyak hal yang direkayasa. Kejadian demikian membuat misteri sampai dengan saat ini, informasi yang mana yang benar dan lebih dapat dipercaya. Bahkan sebelumnya pada saat di persidangan, Gayus juga sempat mengajukan permintaan agar dapat dijadikan staf ahli Ketua KPK, staf ahli Kapolri atau staf ahli Jaksa Agung dan berjanji bahwa dalam jangka waktu dua tahun akan dapat membersihkan negeri ini dari korupsi.
Menyikapi permintaan Gayus tersebut Benyamin Mangkoedilaga mantan Hakim Agung menyatakan pendapatnya bahwa perlu diberikan kesempatan kepada Gayus untuk membuktikan kebenaran ucapannya. Banyak anak-anak juga ingin sekolah seperti Gayus, sementara itu BEM Universitas Sebelas Maret menggelar demo dengan mengusulkan agar Gayus diangkat jadi Presiden dengan alasan bahwa yang bersangkutan lebih berani berjanji untuk memberantas korupsi. Sejarah juga telah membuktikan tentang adanya banyak contoh sosok manusia yang ketika masih muda banyak berbuat dosa, ternyata kemudian menjadi orang baik di akhir hayatnya, sebut saja diantaranya Umar bin Khatab dan Sunan Kalijaga.
Masih adakah kesempatan bagi Gayus untuk bertobat dan mendapatkan khusnul khatimah? Gayus masih muda, masih banyak waktu dan kesempatan untuk bertobat memperbaiki diri. InsyaAllah, jika Allah menghendaki, siapa yang akan mampu menghalangi?.
*) Pensiunan PNS, tinggal di Samarinda, face book Azkun Kunarso. . http://azkuna.blogspot.com
MENYIKAPI MISTERI KASUS GAYUS
Oleh : Kunarso *)
KERANGKENG Penjara, bukan hanya orang jahat yang bisa dimasukkan ke dalamnya, tidak sedikit orang baik dan yang tidak bersalahpun ternyata bisa dimasukkan juga, yaitu ketika barang bukti dan fakta bohong hasil rekayasa menjadi acuan hakim yang mengadilinya.
Kisah Nabi Yusuf yang tertera dengan jelas di dalam Al-Qur’an dapat memberikan banyak pelajaran bagi ummat manusia dalam menyikapi berbagai kasus misteri yang sulit diungkap untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki, tidak terkecuali misteri kasus Gayus yang belakangan sedang mengguncang situasi negeri ini.
FAKTA BOHONG HASIL REKAYASA
Banyak bukti dan fakta hasil rekayasa dibuat oleh manusia yang berbohong untuk meyakinkan orang lain agar percaya dengan apa yang dikatakannya, padahal yang terjadi sebenarnya adalah sangat jauh berbeda. Saudara-saudara Yusuf contohnya, saat sore hari pulang dari bermain mereka menangis dan meminta ampun kepada ayahnya Ya’qub karena saat berangkat dari rumah Yusuf ikut bersama, tetapi saat pulangnya Yusuf tak ada lagi bersama. Merekapun berbohong dengan mengatakan bahwa saat bermain Yusuf dimakan oleh serigala, bukti berupa baju yang berlumur darahpun ditunjukkan untuk meyakinkan apa yang diceritakan kepada ayahnya. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah memang sejak minta ijin untuk mengajak Yusuf bermain sudah ada rencana untuk menyingkirkannya. Semula Yusuf akan dibunuh, atas usul salah satu dari saudaranya maka Yusuf dimasukkan ke dalam sumur.
Untuk mengelabui ayahnya, baju Yusufpun di bawa pulang dengan terlebih dahulu dilumuri darah hewan yang disembelihnya. Baju berlumur darah hewan itulah yang ditunjukkan kepada ayahnya.
Yusuf kemudian selamat dapat keluar dari sumur tersebut setelah ditemukan oleh musafir yang lewat dan kemudian dijual dengan harga yang murah. Seorang Mesir kemudian membelinya, karena tak punya anak maka Yusuf dijadikan sebagai anak angkat. Ujian berat bagi Yusuf tidak terhenti setelah selamat dari sumur, ketika usia menginjak dewasa masih ada lagi ujian berat menimpanya.
BERDO’A AGAR DIPENJARA
Ujian berat bagi Yusuf ketika menginjak dewasa, istri raja bernama Zulaika tertarik padanya karena ketampanannya. Ketika Yusuf berada didalam suatu ruangan menolak ajakan Zulaika dan berusaha untuk lari keluar, maka Zulaika pun menarik bajunya sampai robek. Bersamaan dengan saat itu raja berada di depan pintu hendak masuk ke ruangan sehingga marah berat melihatnya. Zulaika berbohong dengan menangis dan melaporkan kepada suaminya bahwa Yusuf telah mencoba mengganggunya, untuk lebih meyakinkan maka Zulaika membuat argumentasi yaitu menunjukkan bukti berupa baju Yusuf yang robek. Menghadapi Yusuf yang tetap menjaga diri tidak mau menuruti ajakannya, maka Zulaika bersama para wanita temannya mengancam akan memasukkan Yusuf ke penjara. Yusufpun berdo’a: “ Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipudaya mereka, tentu aku akan cenderung untuk memenuhi keinginan mereka dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh” (QS Yusuf 3 : 33). Berbagai tipudaya, kebohongan dan rekayasa dibuat oleh Zulaika, maka Yusufpun kemudian dimasukkan ke penjara sesuai dengan do’anya agar dapat menghindari dosa.
Allah SWT Tuhan Yang Maha Luas ilmuNya memberikan hikmah pengetahuan kepada Yusuf sehingga di penjara Yusuf dikenal oleh banyak temannya. Yusuf dapat menakwilkan mimpi dan semakin dikenal setelah menakwilkan mimpi temannya yang ternyata kemudian terbukti benar-benar terjadi atas ijin Allah Yang Maha Kuasa,
MINTA JADI BENDAHARA
Pada suatu hari Raja bermimpi, ada tujuh ekor lembu gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor lembu kurus-kurus, mimpi itupun membuat Raja gelisah. Berkat informasi yang diperoleh, maka Yusufpun dipanggil ke kerajaan untuk menakwilkan mimpi Raja. Yusuf mengatakan, bahwa negeri ini akan mengalami tujuh tahun berturut-turut dengan keadaan makmur dengan pertanian yang subur dan produksi yang melimpah kemudian akan disusul dengan tujuh tahun berturut-turut dengan keadaan yang sulit karena terjadi kekeringan yang sangat sehingga tanaman pertanian rusak dan tidak berproduksi, jadi sejak sekarang perlu upaya untuk mengatasinya.
Ketika kemudian raja bertanya kepada Yusuf tentang bagaimana cara mengatasinya, maka Yusuf mengajukan permintaan: “Jadikan saya sebagai bendahara negara”. Raja yang saat itu fikirannya dalam kondisi kalut, tak lagi membuang banyak waktu, spontan permintaan itupun disangupinya, maka Yusuf pun menjadi bendahara negara. Rencanapun disusun oleh Yusuf dengan perhitungan yang matang, koordinasi dengan berbagai pihakpun dilakukan dengan penuh transparan, maka semua pihak ikut mendukung untuk mensukseskan programnya dan tak seorangpun ada yang menghalangi langkahnya.
Betul apa yang terjadi kemudian, produksi pertanian negerinya melimpah ruah selama tujuh tahun berturut-turut. Surplus pangan disimpan dengan perlakuan yang sempurnya sehingga dapat tahan dalam jangka waktu yang lama. Kemudian ketika kekeringan terjadi tujuh tahun berikutnya berturut-turut, maka simpanan bahan pangan secara bertahap dikeluarkan sesuai dengan keperluan. Masa tujuh tahun kekeringan itupun akhirnya terlewati dan penduduk negeri bersyukur bahwa masa sulit dapat diatasi. Pada saatnya kemudian, Yusuf pun memimpin negeri dalam suasana aman, tentram dan damai. Yusuf juga menjadi Nabi.
MISTERI KASUS GAYUS
Begitu usai persidangan yang menjatuhkan vonis tujuh tahun penjara dan denda tigaratus juta rupiah, Gayus Halomoan Tambunan bikin kejutan dengan mengungkap banyak hal menurut versinya tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Apa yang disampaikan berbeda dengan bukti dan fakta yang sementara ini telah disiarkan oleh berbagai media, dia menyatakan bahwa ada banyak hal yang direkayasa. Kejadian demikian membuat misteri sampai dengan saat ini, informasi yang mana yang benar dan lebih dapat dipercaya. Bahkan sebelumnya pada saat di persidangan, Gayus juga sempat mengajukan permintaan agar dapat dijadikan staf ahli Ketua KPK, staf ahli Kapolri atau staf ahli Jaksa Agung dan berjanji bahwa dalam jangka waktu dua tahun akan dapat membersihkan negeri ini dari korupsi.
Menyikapi permintaan Gayus tersebut Benyamin Mangkoedilaga mantan Hakim Agung menyatakan pendapatnya bahwa perlu diberikan kesempatan kepada Gayus untuk membuktikan kebenaran ucapannya. Banyak anak-anak juga ingin sekolah seperti Gayus, sementara itu BEM Universitas Sebelas Maret menggelar demo dengan mengusulkan agar Gayus diangkat jadi Presiden dengan alasan bahwa yang bersangkutan lebih berani berjanji untuk memberantas korupsi. Sejarah juga telah membuktikan tentang adanya banyak contoh sosok manusia yang ketika masih muda banyak berbuat dosa, ternyata kemudian menjadi orang baik di akhir hayatnya, sebut saja diantaranya Umar bin Khatab dan Sunan Kalijaga.
Masih adakah kesempatan bagi Gayus untuk bertobat dan mendapatkan khusnul khatimah? Gayus masih muda, masih banyak waktu dan kesempatan untuk bertobat memperbaiki diri. InsyaAllah, jika Allah menghendaki, siapa yang akan mampu menghalangi?.
*) Pensiunan PNS, tinggal di Samarinda, face book Azkun Kunarso. . http://azkuna.blogspot.com
Jumat, 24 Desember 2010
WARGA LOA KUMBAR, KINI MASIH BERSABAR
CAMAT Sungai Kunjang Nurrahmani, S.IP, MM beserta rombongan mengadakan kunjungan ke daerah terpencil di wilayah kerjanya yaitu Loa Kumbar, Kamis 23 Desember 2010. Berangkat dari Kantor Kecamatan pukul 08.30 WITA dan kembali sampai di tempat semula pukul 13.00 WITA. Rombongan ber jumlah 19 orang, ikut serta dalam rombongan tersebut Kepala KUA Sungai Kunjang, Ketua dan Anggota BAZ Sungai Kunjang, dokter dari PUSKESMAS Loa Bakung, dan staf Kecamatan Sungai Kunjang.
Secara administratif, Loa Kumbar adalah termasuk wilayah Kelurahan Loa Buah, yaitu RT 19. Sebenarnya lokasi Loa Kumbar tidaklah terlalu jauh, tidak lebih dari 10 km ke arah ulu dari Jembatan Mahulu, hanya saja belum ada akses jalan darat untuk mencapai daerah tersebut, sehingga untuk mencapainya rombongan naik kapal dari dermaga Loa Buah yang perlu waktu sekitar setengah jam.
Walaupun demikian, belum adanya akses jalan darat menuju ke Kelurahan Loa Bahu ataupun ke Kecamatan Sungai Kunjang membuat warga setempat lebih banyak berinteraksi dengan warga Desa Loa Duri di Kabupaten Kutai Kertanegara yang yang untuk mencapainya dengan naik perahu atau ces.
Begitu sampai di dermaga Loa Kumbar yang terlihat bangunan bekas Pabrik Plywood PT Wahana Rimba Kencana yang telah tidak terawat lagi karena telah ditutup. Sekolah Taman Kanak-Kanak yang menempati sebagian bekas kantor kantor perusahaan tersebut sungguh amat memprihatinkan, muridnya tanpa pakaian seragam dan gurunyapun berpakaian seperti biasa pakaian di rumah. Kondisi inilah yang menggugah Camat Sungai Kunjang untuk mengajak rombongannya untuk melihat bersama dan mengharapkan pemikiran untuk memajukannya.
Ketua RT 19 Loa Kumbar Ardiansyah didampingi seorang warganya Abdullah menyampaikan informasi bahwa warganya sebanyak 77 Kepala Keluarga, sebagian bekerja sebagai petani dengan menanam pisang di ladang dan sebagian bekerja mencari pasir di Sungai Mahakam. Semula daerah ini cukup ramai ketika saat itu ada perusahaan plywood masih aktif berproduksi. Namun kini, setelah perusahaan tutup kondisi menjadi sepi, lebih menyedihkan lagi Mushalla yang ada di dalam pagar perusahaan tertutup pagar dan tidak dimanfaatkan lagi, padahal masyarakat memerlukannya.
Pendidikan anak-anak di lokasi ini mengalami kesulitan karena sekolah yang ada di tempat ini hanya TK, sedangkan untuk Sekolah Dasar dan SMP terpaksa sekolah di Loa Duri yang untuk mencapainya perlu naik perahu atau ces menyeberang sungai besar. Anak-anak banyak yang putus sekolah, pemuda yang berusia antara 15 sampai 25 tahun kebanyakan bekerja mencari paser di Sungai Mahakam. Sedangkan orang tua yang bertani dengan tanaman pisang kesulitan untuk memasarkan hasilnya. Hasil produksi pisang biasa dijual ke Pasar Subuh di Loa Janan Ulu, untuk mengangkut pisang ke pasar tersebut warga berangkat dari rumah sekitar pukul dua malam sehingga pagi subuh sampai di pasar dan dibeli oleh tengkulak yang sudah siap membeli dengan harga murah.
Pada kesempatan baik ini, Ardiansyah menyampaikan harapan warga setempat agar kondisi daerah ini yang terisolasi dapat segera diatasi yaitu dengan membangun jalan tembus menuju ke Kelurahan Loa Buah sehingga memudahkan anak untuk bersekolah. “Memang warga kami sampai kini masih bersabar, tetapi tidak ingin terus begini” mungkin demikian yang terbersit di dalam hatinya dan tidak sempat terucapkan.
Pada kesempatan kunjungan kali ini, Camat menyerahkan bantuan sebanyak Rp. 5.000.000,- kepada TK Cahaya Bunda yang diterima oleh Pembina TK Khairiyah, SPd. Dana bantuan berasal dari BAZ Kecamatan Sungai Kunjang.
Khairiyah menyatakan kegembiraannya atas perhatian Ibu Camat yang demikian besar terhadap TK yang dibinanya dan menyampaikan rencananya untuk menggunakan uang tersebut untuk menambah kelengkapan alat peraga dan seragam sekolah.
Kegiatan kunjungan ini juga dirangkai dengan penimbangan Balita di POSYANDU yang menempati Rumah Ketua RT, bersamaan dengan itu juga dilakukan pemeriksaan kesehatan secara gratis. Warga masyarakat setempat dengan antusiasme tinggi menyambut rombongan yang datang mengunjungi daerahnya.
Nurrahmani dalam sambutannya memberikan semangat kepada warga agar terus berupaya untuk maju, khususnya anak-anak harus sekolah karena sekolah perlu untuk mendapatkan bekal untuk kehidupan di hari depan. Oleh karena itu, mengajak semua pihak untuk ikut memikirkan pembangunan di daerah ini jangan sampai terus tertinggal seperti ini.
Gambar dan Info lebih lanjut silahkan buka album foto di face book Azkun Kunarso atau http://loabakungceria.blogspot.com
Sabtu, 18 September 2010
SEMPATKAN WAKTU UNTUK NONTON
Sang Pencerah : Penuh Semangat Sarat Makna
Share |
Satu lagi film yang akan turut menyambut hari raya Idul Fitri tahun ini. Sang Pencerah, film garapan Hanung Bramantyo akan menjadi tontonan wajib bagi Anda yang menginginkan film sarat makna. Sebuah tontonan yang penuh nilai positif, nilai humanis, nilai perjuangan seorang anak muda, nilai-nilai yang sangat sayang untuk Anda lewatkan.
Sang Pencerah merupakan film yang mengangkat kisah biopic dari tokoh besar yang hidup di tahun 1800-an, Ahmad Dahlan. Ya, tidak tanggung-tanggung memang yang dibuat oleh Hanung yang juga duduk sebagai penulis skenario. Tokoh pendiri Muhammadiyah itu coba dibuat oleh Hanung dalam bentuk layar lebar yang siap memberikan tontonan segar tahun ini.
Sang Pencerah menceritakan seorang pemuda berusia 21 tahun bernama Darwis (Ihsan Taroreh). Pemuda itu gelisah dengan lingkungannya yang melaksanakan syariat Islam yang melenceng ke arah sesat. Untuk mendalami ajaran agama Islam, Darwis pun pergi ke Mekkah.
Sepulangnya dari Mekkah, Darwis merubah namanya menjadi Ahmad Dahlan (Lukman Sardi). Ia mendirikan sebuah langgar/surau dan mengawali pergerakannya dengan mengubah arah kiblat yang salah di Masjid Besar Kauman. Tindakannya itu serta merta mengundang kemarahan seorang kyai penjaga tradisi, Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) yang mengakibatkan surau Ahmad Dahlan dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat.
Cobaan Ahmad Dahlan dalam pergerakannya meluruskan syariat Islam pun tidak hanya sampai di situ. Dirinya juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo, bahkan dirinya disebut kafir.
Namun semangat Ahmad Dahlan tidak pernah surut. Bersama istri tercinta, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid murid setianya : Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adishwara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan terus berjuang. Sampai pada akhirnya ia membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman.
Meskipun film ini harus Anda nikmati dengan durasi 112 menit, Anda tidak perlu takut untuk merasa bosan di dalam bioskop. Anda akan dibuat ikut merasakan perjuangan Ahmad Dahlan dalam adegan demi adegan.
Apalagi tokoh besar Muhammadiyah itu diperankan seorang Lukman Sardi yang di sini semakin menunjukkan kualitas aktingnya yang semakin meningkat. Lukman berhasil menjaga kharismatik dan menggambarkan semangat perjuangan Ahmad Dahlan dengan baik. Kata sempurna sepertinya tidak berlebihan untuk aktor yang telah berperan dengan berbagai karakter ini.
Tidak luput juga akting dari para penyanyi yang mampu melirik perhatian mata penonton, Giring Nidji dan Ihsan Taroreh. Keduanya mampu membuktikan bahwa dirinya tidak hanya menang di atas panggung saja, namun dengan akting yang dipertontonkan dalam film ini oleh kedua penyanyi tersebut, nampaknya bisa mengawali diri mereka untuk berperan dalam film selanjutnya.
Terlepas dari para pemain, tentunya setting tempat yang menggambarkan tahun 1800-an juga menjadi nilai plus dari film produksi MVP Pictures ini. Yogyakarta yang dipilih sebagai lokasi, berhasil Hanung sulap menjadi sebuah perkampungan Yogyakarta pada tahun 1800-an. Ia mampu menghidupkan kembali atmosfer pada tahun tersebut dengan mereka-ulang bangunan Masjid Agung Kauman, wilayah keraton, stasiun lempuyangan, bahkan sudut-sudut kota Yogyakarta dengan sangat realistis.
Sang Pencerah mulai tayang pada 8 September 2010, sebuah tontonan yang siap memberikan inspirasi serta nilai-nilai postif untuk Anda. (eM_Yu)
Share |
Satu lagi film yang akan turut menyambut hari raya Idul Fitri tahun ini. Sang Pencerah, film garapan Hanung Bramantyo akan menjadi tontonan wajib bagi Anda yang menginginkan film sarat makna. Sebuah tontonan yang penuh nilai positif, nilai humanis, nilai perjuangan seorang anak muda, nilai-nilai yang sangat sayang untuk Anda lewatkan.
Sang Pencerah merupakan film yang mengangkat kisah biopic dari tokoh besar yang hidup di tahun 1800-an, Ahmad Dahlan. Ya, tidak tanggung-tanggung memang yang dibuat oleh Hanung yang juga duduk sebagai penulis skenario. Tokoh pendiri Muhammadiyah itu coba dibuat oleh Hanung dalam bentuk layar lebar yang siap memberikan tontonan segar tahun ini.
Sang Pencerah menceritakan seorang pemuda berusia 21 tahun bernama Darwis (Ihsan Taroreh). Pemuda itu gelisah dengan lingkungannya yang melaksanakan syariat Islam yang melenceng ke arah sesat. Untuk mendalami ajaran agama Islam, Darwis pun pergi ke Mekkah.
Sepulangnya dari Mekkah, Darwis merubah namanya menjadi Ahmad Dahlan (Lukman Sardi). Ia mendirikan sebuah langgar/surau dan mengawali pergerakannya dengan mengubah arah kiblat yang salah di Masjid Besar Kauman. Tindakannya itu serta merta mengundang kemarahan seorang kyai penjaga tradisi, Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) yang mengakibatkan surau Ahmad Dahlan dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat.
Cobaan Ahmad Dahlan dalam pergerakannya meluruskan syariat Islam pun tidak hanya sampai di situ. Dirinya juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo, bahkan dirinya disebut kafir.
Namun semangat Ahmad Dahlan tidak pernah surut. Bersama istri tercinta, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid murid setianya : Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adishwara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan terus berjuang. Sampai pada akhirnya ia membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman.
Meskipun film ini harus Anda nikmati dengan durasi 112 menit, Anda tidak perlu takut untuk merasa bosan di dalam bioskop. Anda akan dibuat ikut merasakan perjuangan Ahmad Dahlan dalam adegan demi adegan.
Apalagi tokoh besar Muhammadiyah itu diperankan seorang Lukman Sardi yang di sini semakin menunjukkan kualitas aktingnya yang semakin meningkat. Lukman berhasil menjaga kharismatik dan menggambarkan semangat perjuangan Ahmad Dahlan dengan baik. Kata sempurna sepertinya tidak berlebihan untuk aktor yang telah berperan dengan berbagai karakter ini.
Tidak luput juga akting dari para penyanyi yang mampu melirik perhatian mata penonton, Giring Nidji dan Ihsan Taroreh. Keduanya mampu membuktikan bahwa dirinya tidak hanya menang di atas panggung saja, namun dengan akting yang dipertontonkan dalam film ini oleh kedua penyanyi tersebut, nampaknya bisa mengawali diri mereka untuk berperan dalam film selanjutnya.
Terlepas dari para pemain, tentunya setting tempat yang menggambarkan tahun 1800-an juga menjadi nilai plus dari film produksi MVP Pictures ini. Yogyakarta yang dipilih sebagai lokasi, berhasil Hanung sulap menjadi sebuah perkampungan Yogyakarta pada tahun 1800-an. Ia mampu menghidupkan kembali atmosfer pada tahun tersebut dengan mereka-ulang bangunan Masjid Agung Kauman, wilayah keraton, stasiun lempuyangan, bahkan sudut-sudut kota Yogyakarta dengan sangat realistis.
Sang Pencerah mulai tayang pada 8 September 2010, sebuah tontonan yang siap memberikan inspirasi serta nilai-nilai postif untuk Anda. (eM_Yu)
Senin, 30 Agustus 2010
UNTUNG RUGI PERANG INDONESIA-MALAYSIA
PERANG INDONESIA–MALAYSIA,
Perang Sesama “Indon”, Inginkah?
Oleh : Kunarso
“Indon” begitulah orang Malaysia menyebut orang Indonesia. Penulis semula tak mengerti arti sebutan itu ketika ditanya oleh seorang pelayan rumah makan pada saat berkunjung di Kota Kucing Negeri Serawak Malaysia pada tahun 2002. Memang, banyak diantara mereka yang naik kendaraan umum, menjadi penjaga toko, pekerja bangunan atau pelayan di rumah makan adalah orang yang berasal dari Indonesia. Jika mendengar orang berbicara dalam Bahasa Indonesia, maka mereka akan tertarik lalu bertanya: “Apakah anda Indon?”.
Pengunjung dari Indonesia yang tak biasa mendengar pertanyaan seperti itu sering kali hanya melongo tidak tahu bagaimana harus memberi jawaban. Melihat pengunjung yang belum juga memberi jawaban, bisa jadi pertanyaan akan di ulang: “Apakah anda dari Jakarta?”. Setelah mendapat pertanyaan demikian, maka baru bisa sedikit mudah untuk dimengerti dan ketika dijawab “Saya dari Samarinda, Kalimantan Timur”, maka spontan komentarnya “ Oh, Indon”. Apabila ada masalah bahasa yang belum dipahami, maka tidak perlu berlarut-larut karena begitu kembali ke hotel yang kebetulan penjaganya juga berasal dari Indonesia bisa memberikan penjelasan yang menuntaskan sehingga tahulah bahwa yang dimaksud “Indon” adalah orang Indonesia. Belakangan ini banyak “Indon” dikejar-kejar oleh Pasukan Rela karena dianggap masuk ke Malaysia tanpa “ijin permit”. Diantara sekian banyak Pasukan Rela ada juga yang “Indon” . Sementara itu, tidak sedikit pula “Indon” dari Jawa, Sulawesi, Madura, Ambon, NTB maupun dari Sumatera yang sukses bekerja dan menetap di Malaysia bahkan kemudian menjadi warga Negara Malaysia. Kebanyakan mereka mengandalkan tenaga fisik dan ketrampilan, tetapi ada pula yang memiliki keahlian sebagai teknisi, peneliti, pengusaha bahkan tak perlu heran jika ada yang menjadi anggota Tentara Diraja Malaysia.
Seorang peneliti di sebuah lembaga riset yang penulis kunjungi pada akhir bulan Desember 2004 mengaku berasal dari sebuah kota di Sumatera. Sudah puluhan tahun beliau bekerja di lembaga riset itu dan menjadi warga negara Malaysia, namun dengan bangga mengatakan bahwa beliau juga masih tercatat sebagai warga negara Indonesia, memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan bahkan ikut memilih SBY pada Pemilu 2004. Beliau memiliki beberapa hektar kebun di daerah asalnya di Sumatera dan secara berkala menengoknya.
Jika bicara soal pengembangan usaha perkebunan kelapa sawit di Malaysia, tidak lepas dari andil seorang pengusaha yang berasal dari Sulawesi. Ada seorang pengusaha yang semula menjadi kontraktor pembangunan kebun kelapa sawit, akhirnya memiliki kebun kelapa sawit sendiri di negeri jiran itu. Partisipasinya yang begitu besar terhadap kerajaan Malaysia, membuat beliau yang sudah menjadi warga negara Malaysia itu mendapatkan gelar “Datuk” suatu gelar kehormatan yang hanya terbatas diberikan oleh Kerajaan kepada mereka yang berjasa istimewa. Rasa nasionalisme yang masih ada, maka mendorong beliau kini membangun kebun kelapa sawit di Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur.
Bukan Konflik Pertama.
Sejarah mencatat bahwa konflik Ambalat, bukanlah konflik pertama antara Indonesia dan Malaysia. Sebelumnya juga ada konflik Sipadan dan Ligitan yang akhirnya terpaksa Indonesia harus menerima kenyataan bahwa Mahkamah Agung Internasional memutuskan bahwa kedua pulau itu masuk wilayah negara Kerajaan Malaysia. Konflik tahun 1963, boleh jadi menjadi konflik yang pertama yaitu pada saat Bung Karno presiden pada saat itu menentang keras pembentukan Federasi Malaysia.
Konflik Ambalat mencuat setelah Pemerintah Indonesia mengirimkan nota diplomatik berupa protes kepada pemerintah Malaysia, atas pemberian konsesi minyak di Blok Ambalat oleh perusahaan minyak negara Malaysia, Petronas kepada perusahaan minyak Shell.
Protes ini menurut Juru Bicara Departemen Luar Negeri Marty Natalegawa karena pemberian hak konsesi ini dilakukan dalam wilayah perairan Indonesia. Tepatnya di Laut Sulawesi, perairan sebelah Timur Kalimantan.
Menurut Marty, klaim tersebut dilakukan Malaysia dengan argumentasi peta tahun 1979 yang diterbitkan secara sepihak oleh Malaysia. \"Jangankan Indonesia, negara lain saja sudah protes atas penerbitan peta itu, karena mengubah wilayah perairan di Asia Tenggara,\" ujar Marty.
Protes terhadap peta itu menurut Marty, sudah dilakukan sejak Tahun 1980 dan tetap dilakukan secara berkala. Indonesia sendiri ujar Marty, telah memberikan konsesi minyak kepada beberapa perusahaan minyak dunia di lokasi ini sejak tahun 1960-an tanpa ada keberatan dan protes dari negara lain. \"Karena memang dilakukan di wilayah Indonesia,\" kata Marty.
Pengalaman perang dari konflik pertama, seyogyanya menjadi pelajaran bagi segenap pihak.
Mengalihkan Perhatian.
Politik konfrontasi dengan Malaysia digalakkan Soekarno pada 8 Januari 1963 setelah Wakil Perdana Menteri I Soebandrio mengumumkannya secara resmi. Dan saat itu, posisi politiknya masih kuat menyusul kemenangannya di Irian Barat. Tetapi setelah 30 September 1965, hasrat berkonfrontasi dengan Malaysia sepertinya lebih untuk konsumsi dalam negeri daripada sebaliknya.
Soekarno menghadapi demonstrasi mahasiswa yang digerakkan oleh Angkatan Darat yang tak lagi loyal kepadanya. Dan dia percaya, dengan menciptakan musuh di luar, elemen-elemen ini akan terangsang kembali saraf “nasionalisme” nya. Tentu saja tafsir nasionalisme di sini adalah dukungan politik kepada Soekarno.
Sebab, menjual isu perang dengan Malaysia terbukti manjur untuk menyatukan elemen ideologis yang mulai terfragmentasi pasca-pembubaran Masyumi. Ini semakin menguatkan dugaan bahwa Bung Karno yang mulai tidak populer setelah G30S, menciptakan musuh bersama di luar untuk meredam gejolak di dalam negeri. \"Suatu bangsa selalu memerlukan musuh,\" kata Bung Karno saat menyulut konfrontasi.
Perang Sesama “Indon”
Pengalaman perang dengan Malaysia yang dimulai tahun 1963 sungguh mengerikan, banyak korban yang ditimbulkan, tidak sedikit tentara yang maju ke medan perang tidak pernah kembali, ada yang tewas dan ditawan musuh. Diantara mereka ada seorang tentara Angkatan Udara yang berasal dari Madiun yang begitu semangat berangkat maju ke medan perang, tekadnya membela negara. Di medan pertempuran saat tembak menembak, ternyata kehabisan peluru akhirnya dia tertangkap dan menjadi tawanan perang. Penderitaan berat dialami, yang lebih menyakitkan ternyata yang menyiksa adalah Tentara Malaysia asal Ponorogo, orang sesama “Indon”. Masihkah ada yang ingin berperang lagi? Astaghfirullah.
Perang Sesama “Indon”, Inginkah?
Oleh : Kunarso
“Indon” begitulah orang Malaysia menyebut orang Indonesia. Penulis semula tak mengerti arti sebutan itu ketika ditanya oleh seorang pelayan rumah makan pada saat berkunjung di Kota Kucing Negeri Serawak Malaysia pada tahun 2002. Memang, banyak diantara mereka yang naik kendaraan umum, menjadi penjaga toko, pekerja bangunan atau pelayan di rumah makan adalah orang yang berasal dari Indonesia. Jika mendengar orang berbicara dalam Bahasa Indonesia, maka mereka akan tertarik lalu bertanya: “Apakah anda Indon?”.
Pengunjung dari Indonesia yang tak biasa mendengar pertanyaan seperti itu sering kali hanya melongo tidak tahu bagaimana harus memberi jawaban. Melihat pengunjung yang belum juga memberi jawaban, bisa jadi pertanyaan akan di ulang: “Apakah anda dari Jakarta?”. Setelah mendapat pertanyaan demikian, maka baru bisa sedikit mudah untuk dimengerti dan ketika dijawab “Saya dari Samarinda, Kalimantan Timur”, maka spontan komentarnya “ Oh, Indon”. Apabila ada masalah bahasa yang belum dipahami, maka tidak perlu berlarut-larut karena begitu kembali ke hotel yang kebetulan penjaganya juga berasal dari Indonesia bisa memberikan penjelasan yang menuntaskan sehingga tahulah bahwa yang dimaksud “Indon” adalah orang Indonesia. Belakangan ini banyak “Indon” dikejar-kejar oleh Pasukan Rela karena dianggap masuk ke Malaysia tanpa “ijin permit”. Diantara sekian banyak Pasukan Rela ada juga yang “Indon” . Sementara itu, tidak sedikit pula “Indon” dari Jawa, Sulawesi, Madura, Ambon, NTB maupun dari Sumatera yang sukses bekerja dan menetap di Malaysia bahkan kemudian menjadi warga Negara Malaysia. Kebanyakan mereka mengandalkan tenaga fisik dan ketrampilan, tetapi ada pula yang memiliki keahlian sebagai teknisi, peneliti, pengusaha bahkan tak perlu heran jika ada yang menjadi anggota Tentara Diraja Malaysia.
Seorang peneliti di sebuah lembaga riset yang penulis kunjungi pada akhir bulan Desember 2004 mengaku berasal dari sebuah kota di Sumatera. Sudah puluhan tahun beliau bekerja di lembaga riset itu dan menjadi warga negara Malaysia, namun dengan bangga mengatakan bahwa beliau juga masih tercatat sebagai warga negara Indonesia, memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan bahkan ikut memilih SBY pada Pemilu 2004. Beliau memiliki beberapa hektar kebun di daerah asalnya di Sumatera dan secara berkala menengoknya.
Jika bicara soal pengembangan usaha perkebunan kelapa sawit di Malaysia, tidak lepas dari andil seorang pengusaha yang berasal dari Sulawesi. Ada seorang pengusaha yang semula menjadi kontraktor pembangunan kebun kelapa sawit, akhirnya memiliki kebun kelapa sawit sendiri di negeri jiran itu. Partisipasinya yang begitu besar terhadap kerajaan Malaysia, membuat beliau yang sudah menjadi warga negara Malaysia itu mendapatkan gelar “Datuk” suatu gelar kehormatan yang hanya terbatas diberikan oleh Kerajaan kepada mereka yang berjasa istimewa. Rasa nasionalisme yang masih ada, maka mendorong beliau kini membangun kebun kelapa sawit di Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur.
Bukan Konflik Pertama.
Sejarah mencatat bahwa konflik Ambalat, bukanlah konflik pertama antara Indonesia dan Malaysia. Sebelumnya juga ada konflik Sipadan dan Ligitan yang akhirnya terpaksa Indonesia harus menerima kenyataan bahwa Mahkamah Agung Internasional memutuskan bahwa kedua pulau itu masuk wilayah negara Kerajaan Malaysia. Konflik tahun 1963, boleh jadi menjadi konflik yang pertama yaitu pada saat Bung Karno presiden pada saat itu menentang keras pembentukan Federasi Malaysia.
Konflik Ambalat mencuat setelah Pemerintah Indonesia mengirimkan nota diplomatik berupa protes kepada pemerintah Malaysia, atas pemberian konsesi minyak di Blok Ambalat oleh perusahaan minyak negara Malaysia, Petronas kepada perusahaan minyak Shell.
Protes ini menurut Juru Bicara Departemen Luar Negeri Marty Natalegawa karena pemberian hak konsesi ini dilakukan dalam wilayah perairan Indonesia. Tepatnya di Laut Sulawesi, perairan sebelah Timur Kalimantan.
Menurut Marty, klaim tersebut dilakukan Malaysia dengan argumentasi peta tahun 1979 yang diterbitkan secara sepihak oleh Malaysia. \"Jangankan Indonesia, negara lain saja sudah protes atas penerbitan peta itu, karena mengubah wilayah perairan di Asia Tenggara,\" ujar Marty.
Protes terhadap peta itu menurut Marty, sudah dilakukan sejak Tahun 1980 dan tetap dilakukan secara berkala. Indonesia sendiri ujar Marty, telah memberikan konsesi minyak kepada beberapa perusahaan minyak dunia di lokasi ini sejak tahun 1960-an tanpa ada keberatan dan protes dari negara lain. \"Karena memang dilakukan di wilayah Indonesia,\" kata Marty.
Pengalaman perang dari konflik pertama, seyogyanya menjadi pelajaran bagi segenap pihak.
Mengalihkan Perhatian.
Politik konfrontasi dengan Malaysia digalakkan Soekarno pada 8 Januari 1963 setelah Wakil Perdana Menteri I Soebandrio mengumumkannya secara resmi. Dan saat itu, posisi politiknya masih kuat menyusul kemenangannya di Irian Barat. Tetapi setelah 30 September 1965, hasrat berkonfrontasi dengan Malaysia sepertinya lebih untuk konsumsi dalam negeri daripada sebaliknya.
Soekarno menghadapi demonstrasi mahasiswa yang digerakkan oleh Angkatan Darat yang tak lagi loyal kepadanya. Dan dia percaya, dengan menciptakan musuh di luar, elemen-elemen ini akan terangsang kembali saraf “nasionalisme” nya. Tentu saja tafsir nasionalisme di sini adalah dukungan politik kepada Soekarno.
Sebab, menjual isu perang dengan Malaysia terbukti manjur untuk menyatukan elemen ideologis yang mulai terfragmentasi pasca-pembubaran Masyumi. Ini semakin menguatkan dugaan bahwa Bung Karno yang mulai tidak populer setelah G30S, menciptakan musuh bersama di luar untuk meredam gejolak di dalam negeri. \"Suatu bangsa selalu memerlukan musuh,\" kata Bung Karno saat menyulut konfrontasi.
Perang Sesama “Indon”
Pengalaman perang dengan Malaysia yang dimulai tahun 1963 sungguh mengerikan, banyak korban yang ditimbulkan, tidak sedikit tentara yang maju ke medan perang tidak pernah kembali, ada yang tewas dan ditawan musuh. Diantara mereka ada seorang tentara Angkatan Udara yang berasal dari Madiun yang begitu semangat berangkat maju ke medan perang, tekadnya membela negara. Di medan pertempuran saat tembak menembak, ternyata kehabisan peluru akhirnya dia tertangkap dan menjadi tawanan perang. Penderitaan berat dialami, yang lebih menyakitkan ternyata yang menyiksa adalah Tentara Malaysia asal Ponorogo, orang sesama “Indon”. Masihkah ada yang ingin berperang lagi? Astaghfirullah.
Langganan:
Postingan (Atom)